Entah kenapa ada orang yang mau membuat dan menulis di blog seperti ini, mungkin karena latah, munkin!, atau mungkin karena narsis, mungkin!, atau bahkan mungkin karena takut, GAK MUNGKIN!. Mana mungkin seorang yang dulu dikenal orang paling gila seantero jagad ini takut dengan hal-hal sepele. Tapi mungkin juga seh, mungkin dia takut kelangsungan eksistensinya terancam alias punah. Nah, untuk karena itu dan oleh karena itu serta sebab hal itu, alangkah lebih baiknya cerita ini dituliskan agar kemudian melegenda dan menjadi buah bibir rakyat Indonesia.
Begini Cerita:
Pada suatu masa dimana kehudpan masih sangat sederhana dan serba tradisional, bahkan di sudut paling modern pun seperti Kota Jakarta, lahirlah seorang bayi laki-laki dari keturunan rakyat jelata. Laki-laki tersebut lahir tepat saat suasana dimana Kota Jakarta saat itu dikuasai oleh antek-antek kompeni Belanda atau lebih tepatnya mantan-mantan kompeni. Kenapa disebut mantan kompeni karena mereka adalah orang-orang asli Kota yang mersikap seperti penjajah yang menjarah, merampas dan bahkan menyakiti masyarakat Kota lainnya waktu itu. Bayi tersebut lahir dengan segala kesempurnaan yang diberikan oleh Tuhan sebagai anugerah terbesar yang pernah diberikan oleh-Nya kepada orang tua si bayi tersebut. Ipin, begitu orangtua dan rakyat lainnya memanggil bayi tersebut. Mungkin di zaman zaat ini (tahun 2010) nama Ipin identik dengan tokoh kartun kebar Si Ipin Upin dari Malaysia. Ipin tumbuh menjadi anak Kota dengan asuhan nuansa religius yang kental. Meskipun bagaimanapun, masa-masa kecil Ipin penuh dengan tantangan dan keunikan serta kegilaan. Di sinilah Ipin mulai terbentuk sebagai seseorang yang teramat gila dan hebat tak hanya dimata keluarganya tapi dimata masyarakat sekelilingnya. (BERSAMBUNG ...)
