Senin, 22 Februari 2010

Ia Mengatakannya Lewat Facebook ( Bag. I)


Kenapa manusia diberikan pikiran? yah pasti digunakan untul berpikir dong, ungkap salah seorang temanku. Kemudian dibalik bertanya kepadaku, "wan kenapa Tuhan menjadikan rasa cinta untuk manusia?". kemudian ku jawab saja, "yah jelas dong untuk mencitai", cetusku. Salah! Loe salah besar wan, "loh kok bisa?", tanyaku penasaran. Ya bisa dong, kenapa Tuhan menciptakan rasa cinta yah pasti untuk bisa merasakan rasa benci. Sejenak ku berpikir apakah perkataannya benar ataukah dia memang sedang ngelantur seperti biasanya. Agak lama aku memikirkannya hingga aku dikejutkan dengan pukulan tangan yang tidak terlalu keras di atas pundakku seraya ia berkata,"udahlah wan, gak usah dipikirin, ntar juga lama-lama loe ngerti apa maksud gw". Percakapan itu pun berakhir kala jam menunjukkan pukul 12 siang. Masing-masing dari kami pergi dengan kesibukannya masing-masing dan aku pun coba untuk pergi ke surau karena ku dengan panggilan iqomat sudah berdengung.

***
Sore ini aku benar-benar pusing nampaknya migran akut ku kumah lagi dan diperparah dengan kondisiku yang sudah dua minggu tidak karuan, malam susah tidu insomnia, makan tak teratur bahkan kadang sekedar sholatpun telat. Dua tablet aspirin sudah ku telan bulat-bulat tapi kelihatannya tidak ada perubahan yang signifikan. Terus saja kepala ini sakit, berat bahkan seoakan mau copot dari batang leher ini. Aku layaknya kambing yang sedang disembelih. mengembik kesakitan dan tak ada daya. Aku tergelepak dan terkapar di atas kasurku yang sudah mulai tipis lantaran sering digunakan. Maklum saja, aku anak kuliahan yang merantau ke kampung orang dan mencari kost yang pas-pasan dan tidurpun harus berbagi dengan teman satu kamarku. Dering getar telepon selulerku menggangguku, amat sangat mengganggu. Tapi mau tak mau ku lihat saja. ada sekitar 4 kali panggilan tak terjawab dan 3 pesan yang masuk. Ku buka satu persatu, ku perhatian baris demi baris sambil ku pencet keypad yang sudah tak nyaman digunakan. Tak ada orang penting yang menghubungiku atau berbagi pesan denganku. Ku kira itu nomor Presiden Amerika Obama yang mungkin tak sengaja menemukan nomor telepon selulerku atau mungkin aku sedang dicari oleh agen FBI nya. Atau ku kira itu SBY yang mencoba mengirimiku pesan yang berisikan, "Ridwan wargaku yang sangat aku cintai, semoga Anda cepat sembuh dan segera bertemu dengan saya. Tertanda Presiden RI Dr. H Susilo Bambang Yudoyono. Atau ku kira ada pesan dari Leiden University, Harvard atau IIEF, dan berisikan, " Dear Ridwan, we proudly say to you congratulation for your achievement, you are sellected as one of participants of our schoolarship program". Tapi lagi-lagi aku hanya berkhayal. Imajinasi yang dihasilkan karena migran ini, atau mungkin pengaruh obat.

Aku coba bertekad untuk beranjak dari kasurku. Ku pun berhasil. Aku memaksakan untuk berjalan sekedar mandi dan berwudhu meskipun sore itu mendung dan angin sangat dingin terlebih lagi kepala ini berat seperti ditimpa gunung bergunung-gunung. Syukurlah azan magrib tak lama berkumandang. Inilah saat yang tepat bagiku untuk mencabut kutukan penyakit ini. Mungkin kutukan, mungkin azab, mungkin peringatan, atau mungkin nikmat. Entahlah kadang aku tidak bisa membedakannya. (Bersambung)

Selasa, 09 Februari 2010

AKU ceritaku Jilid I

Entah ini sebuah perenungan atau sebuah omong kosong belaka, tapi ku berharap sangat dari sebuah tulisan ini, seorang AKU yang selama ini kukenal akan kehinaan dan kebiadaban yang mungkin tak banyak orang yang tahu bahkan mungkin tak ada seorangpun yang tahu kecuali Tuhan-Nya dan Malaikat-malaikat yang entah menjaga atau mencibirnya. Aku telah banyak melihat sesuatu yang baru dalam diri sesosok AKU, tapi lama dan lama sekali aku mengamatinya, lama aku mengawasinya dan lama aku mengenalnya, AKU sangatlah berbeda dengan sejauh yang ku ketahui dan orang lain ketahui. Entah karena apa AKU berubah hingga sedemikan hina seperti binatang, atau sedemikian sadis seperti pembunuh psikopat, atau bahkan sedemikan bejat layaknya setan-setan alas. Aku cukup paham kenapa Ia berubah dan cukup mengerti kenapa Ia menjadi seperti itu, menjadi AKU yang lain, meskipun tak tampak dipermukaan tapi hatinya, pikirannya, dan segala kebaikannya berubah drastis 180 derajat dari AKU yang aku kenal selama ini. Lingkungan? Entahlah, apakah mungkin lingkungan sekelilignya mempengaruhinya hingga menjadi seperti itu? Setahuku AKU yang sedari kecil membunya sikap pendirian yang kokoh dan tegar serta egois tak rapuh diterpa pengaruh dari lingkungannnya bahkan kadang justru Ia yang mempengaruhi lingkungannya. Bacaan? Mungkin bisa jadi, tapi semua itu hanya kemungikinan. Mungkin lantaran ia gemar sekali membaca buku-buku aneh, mulai dari buku paling datar, buku-buku romantis yang hanya dijual untuk membuat para pembacanya menangis, atau buku-buku fitnah yang isinya sekedar emosional penulisnya tentang segala hal, atau buku-buku yang membuat seseorang ingin segera mati dan bertaubat, atau mungkin juga buku-buku tentang perjuangan-perjuangan komunis yang dianggap sebagai musuh oleh peradaban manusia. Yah, AKU senang sekali membaca buku-buku seperti itu, bahkan sampai aku tahu kalau AKU memiliki uang bangsa sepeser atau seberapa peser, pasti Ia membelikan buku, AKU tak bernafsu pada makanan, hanya sedikit saja, tapi kalau buku? Alamak langsung dibelinya meskipun dibacanya entah kapan. Tapi AKU yang ku kenal bukanlah kutu buku yang mungkin dalam gambaran orang-orang bahwa kutu buku adalah anak culun, cupu, berkacamata tebal dan selalu menenteng buku-buku tebal kemana pun ia pergi.

AKU sebagaimana yang telah ku katakan bahwa AKU telah berubah. Aku jadi teringat suatu hari, mungkin sifat hinanya didapatnya dari sebuah tempat. Yah, tempat dimana AKU mendapatkan wangsit-wangsit setan, tapi kalau dipikir-pikir apakah mungkin AKU menjadi sedemikan bejatnya karena wangsit itu? Setahuku AKU adalah anak yang alim, soleh dan taat beribadah. Apakah mungkin seorang AKU yang abid menjadi sedemikan rupa layaknya iblis? Mungkin saja, Aku jadi teringat sebuah kisah dan ternyata kisah ini AKU yang menceritakannya kepadaku. Kisah dimana disuatu waktu ada seorang yang ahli ibadah yang disanjung-sanjung oleh malaikat bahkan tak hanya disanjung, malaikatpun jatuh hati dan iri kepadanya lantaran ibadahnya. Tapi si ahli ibadah ini akhirnya tergoda oleh setan yang menyamar dengan liciknya sebagai ahli ibadah yang sangat hanif, si abid alias ahli ibadah tersebut bertanya kepada setan yang menyamar, wahai saudaraku kenapa engkau menjadi sedemikian mulianya? Dengan mata yang tajam penuh kelicikan, setan menjawab, “wahai saudaraku yang ku kasihi, aku mengalami hal seperti karena aku melakukan dosa berat dan setelah itu aku merasa sangat berdosa dan tobatku sedemikan dalam, aku pernah berbuat zina dengan seorang wanita lajang, aku pernah meminur khamar yang amat teramata nikmatnya dan akupun pernah membunuh manusia. Maka lakukanlah hal itu wahai saudaraku agar kau merasa sangat berdosa dan tobatmu akan terasa nikmat”. Si ahli ibadah yang sangat dikagumi malaikat itu pun melakukannya, mula-mula ia meminum khomar lalu karena mabuk ia berzina kemudian membunuh, dan ia pun terperanjat terperangkap dalam belenggu setan di neraka. Apakah mungkin AKU yang ku kenal seperti itu?

Belakang ini, AKU terlihat sangat pendiam, menjauh dari kerumunan dan sedikit memberontak. Aku masih sangat ingat ketika AKU masih duduk di bangku SMA yang kala itu ia sangat jahil tapi pandai. Ada satu hal yang takkan pernah ku lupakan dari karakter AKU adalah periang dan murah senyum tapi ketika adalah masalah yang sebenarna tak pelik, pastilah seisi sekolah menjadi sasaran amukannya, atau ketika AKU sedang bermalas-malasan pulang ke rumahnya lantaran tak ada kenyamanan hari itu, pasti Ia berlama-lama di sekolah atau main entah ke tempat mana, bisa ke rumah kawannya, ke emperan jalan, pasar, atau bahkan mall dan malam harinya, ia lebih senang berjalan kaki menikmati bisingnya kota dengan gemerlap lampu sambil memiting sepuntung rokok yang belakang ku ketahui kalau AKU merokok hanya waktu stress dan bete saja. (Bersambung...)