Rencana renovasi Gedung Nusantara I atau lebih sering kita mengenalnya dengan Gedung DPR RI Senayan yang akan mengahabiskan dana sebesar Rp. 1,8 Triliun terus menjadi perhatian masyarakat kita. Di tengah minimnya prestasi yang dihasilkan oleh wakil rakyat kita, justru agenda tersebut menambah rasa prihatin rakyat terhadap kinerja wakil-wakilnya di bangku DPR Senayan sana. Belum adanya progress yang jelas serta itikad baik untuk mensejahterakan rakyat atau paling tidak mendengarkan aspirasi rakyat bawah yang terus menerus menderita entah karena ulah siapa. Di tengah rasa keprihatinan terhadap angka kemiskinan, di saat kerisauan akan kegagalan UN pada anak-anak bangsa melanda serta saat praktik korupsi menjadi momok yang sangat menakutkan bagi bangsa ini, DPR justru berencana merenovasi gedung kerjanya yang layak Istana.
Entah apa yang menjadi pertimbangan para wakil rakyat kita tersebut, tapi satu hal yang diketahui rakyat bahwa DPR adalah wakil-wakil rakyat yang menjadi perpanjangan lidah aspirasi mereka. Lantas apakah renovasi gedung DPR merupakan sebuah aspirasi rakyat bawah ataukah nafsu elit DPR? Jumlah yang tak tanggung dialokasikan untuk itu, 1,8 triliun sebuah nominal angka yang tidak sedikit. Marzukie Ali Ketua DPR pada VIVAnews edisi minggu (9/5) setuju dengan pembangunan gedung baru DPR dengan alasan gedung DPR sudah overload. Menjadi sebuah pandangan yang bertolak belakang, ketika rakyat dirundung kelaparan atau bahkan menangis karena penangguran DPR, Marzukie Ali justru mengiyakan pembangunan atau renovasi Gedung Nusantara I tersebut.
Merenovasi Visi baru Gedung
Idealnya, DPR adalah sekelompok orang yang menjadi wakil rakyat, menjadi payung aspirasi rakyat dalam menyuarakan kehendak dan keluhan rakyat terhadap pemerintah. Sebab anggota DPR dipilih oleh rakyat secara langsung maka ada sebuah kewajiban untuk bertanggungjawab kepada rakyat bukan kepada Presiden apalagi golongan partai tertentu. Ditengah rencana renovasi gedung DPR, visi yang dijalankan DPR dalam mewujudkan pelayanan terhadap rakyat belum ada suatu kinerja yang baik dan menunjukkan progress yang maju. Dibuktikan dengan minimnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap para wakil rakyat yang ditunjukan dengan meningkatnya angka voter absentia pada setiap pemilu baik tingkat nasional, daerah, ataupun walikota.
Visi yang dijalankan para wakil rakyat kita di Senayan harusnya direnovasi kembali guna pendayagunaan dan kejelasan tujuan bagi rakyat yang menanti sebuah keadilan dan kesejahteraan. Bukanlah renovasi gedung yang dengan lantang diperjuangkan yang dengan sangat jelas menelan biaya yang tidak sedikit. Barangkali ini zamannya dimana wakil rakyat menjadi wakil rayat yang elitis bukan lagi wakil rakyat bagi bangsa ini. Entah hendak dibawa kemana nasib bangsa ini ditengah segala krisis yang melanda rakyat hingga mengakibatkan penderitaan dan keperihan hidup. DPR yang merupakan wadah harapan rakyat deng menyuarakan aspirasinya nampaknya kini tidak lagi berpihak kepada rakyat. Hanya bias berorasi di depan siding, mencaci atas nama rakyat bahkan mencari nama dibalik penderitaan rakyat, bukan mencari sebuah solusi permasalahan yang tengah melanda rakyat selama ini. Berharap semoga wakil rakyat kita di Senayan sana mau membuka mata dan telingan atas kondisi bangsa saat ini sehingga kebijakan atau tindakan yang diambil tidak bertolak belakang dengan aspirasi dan harapan rakyat kita.
(* Ridwan Arifin
Mahasiswa Fakultas Hukum 2007


Tidak ada komentar:
Posting Komentar